Senin, 07 Mei 2012

HERMENEUTIK 

I. PENDAHULUAN 

Episteme modernitas telah mengubah persepsi kaum Muslim tentang Al-Qur’an dan interpretasinya. Perkembangan interpretasi Al-Qur’an sejak Sayyid Ahmad Khan (1817-1898) di India dan Muhammad Abduh (1849-1905) di Mesir telah menyaksikan perubahan interpretasi Al-Qur’an dari tekstual kepada rasional dan kontekstual. Makna tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang statis, melainkan dinamik dan historis yang dikembangkan sebagai hasil dari adanya perubahan waktu dan tempat. Kesadaran akan historisitas makna sangatlah sentral dalam hermeneutika Al-Qur’an kontemporer . Dalam makalah ini akan memabahas: 
1. Pengertian dan Sejarah hermeneutik 
2. Aliran-aliran hermeneutik 
3. Cara kerja hermeneutik 
4. Contoh hermeneutik 

II. PEMBAHASAN 

A. Pengertian dan Sejarah Hermeneutik 
Istilah hermeneutik atau hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneia atau hermeneuin yang mempunyai arti mengatakan, menjelaskan dan menerjemahkan. “Mengatakan” atau mengungkapkan sesuatu yang tadinya masih dalam pikiran melalui kata-kata sebagai medium penyampaian. “Menjelaskan” atau menafsirkan sesuatu secara rasional dan menjadikannya terang. “Menerjemahkan” dapat dipahami dalam konteks adanya perbedaan bahasa antara teks sumber dan pembaca. Pengertian dasar ini sering dikaitkan dengan Hermes, salah satu dewa dalam mitologi Yunani . Secara umum kalangan ilmuwan klasik dan modern telah sepakat tentang pengertian hermeneutik, yang diartikan sebagai proses mengubah sesuatu dari situasi ketidaktahuan menjadi mengerti . 

Benih-benih hermeneutika ditemukan dalam Peri Hermeneias karya Aristoteles. Disana dipaparkan bahwa kata-kata yang kita ucapkan adalah symbol dari pengalaman mental kita, dan kata-kata yang kita tulis adalah simbol dari kata-kata yang kita ucapkan. Pada awalnya hermeneutika digunakan oleh kalangan agamawan. Melihat hermeneutika dapat menyuguhkan makna dalam teks klasik, maka pada abad ke-17 kalangan gereja menerapka telaah hermeneutis untuk membongkar makna teks Injil. Dalam posisi ini hermeneutika dianggap sebagai metode untuk memahami teks kitab suci. Fakta ini dinisbatkan sebagai langkah awal dalam pertumbuhan hermeneutika, bahwa hermeneutika adalah sebuah gerakan interpretasi atau eksegesis di awal perkembangannya . 

Munculnya F.D.E. Schleiemacher pada abad ke-20 sebagai Bapak Hermeneutika Modern membuat kajian hermeneutika semakin berkembang, memperluas cakupan hermeneutika tidak hanya dalam bidang sastra dan kitab suci, tapi dalam bidang lain seperti sejarah, hukum, dan filsafat. Hingga akhir abad ke-20 paling tidak hermeneutika dipilah dalam tiga kategori: sebagai filsafat, sebagai kritik, dan sebagai teori. Sebagai filsafat yang diperkenalkan oleh Heidegger dalam istilah hermeneutika eksistensialis-ontologis, hermeneutika tunbuh menjadi satu aliaran pemikiran dalam diskursus filsafat. Sebagai kritik, hermeneutika memberi reaksi keras terhadap berbagai asumsi idealis yang menolak pertimbangan ekstralinguistik sebagai penentu konteks pikiran dan aksi yang dimotori oleh Hebermas. Sebagai teori, hermeneutika berfokus pada problem disekitar teori interpretasi . 

 B. Aliran-aliran Hermeneutik 

Beberapa intelektual berupaya untuk membaca ulang dan menginterpretasikan ulang teks Al-Qur’an dengan menggunakan perangkat-perangkat studi baru yang dikembangkan dalam ilmu-ilmu sosial dan humanitas ini . Fazlur Rahman (1919-1988), seorang filosof Muslim dan pembaharu liberal Pakistan, dia mengusulkan sebuah hermeneutika Al-Qur’an dengan mengintroduksi metode “gerakan ganda” (double movement), “dari situasi masa kini kepada masa Al-Qur’an, kemudian kembali lagi ke masa kini.” 

 Akhir tahun 1980-an muncul dua tokoh feminis dalam Islam yang mengembangkan hermeneutika Al-Qur’an feminis: Riffat Hasan yang mengusulkan tiga prinsip interpretasi yaitu akurasi linguistik, kriteria konsistensi filosofis, dan kriteria etis. Amina Wadud, Profesor Religious Studies, menggunakan metodologi Fazlur Rahman dan analisis semantic Toshihiko Izutsu untuk memostulatkan sebuah perbedaan antara ‘prior-teks’ Al-Qur’an yang secara hostoris dan kultural terkontekstualisasi, dan sebuah ‘metateks’ yang lebih luas yang mengantarkan sebuah pandangan dunia yang lebih toleran dan universal . 

Hermeneutika pembebasan diusulkan oleh intelektual Muslim seperti Hasan Hanafi pada tahun 1980-an. Dia mengusulkan sebuah hermeneutika Al-Qur’an yang spesifik (juz’i), tematik (mawdhu’i), temporal (zamani), dan realistik (waqi’i), dan menekankan makna dan tujuan ketimbang kata-kata dan huruf. Farid Esack, seorang intelektual Muslim Afrika Selatan mengusulkan sebuah “hermeneutika Al-Qur’an tentang pluralisme religius untuk pembebasan” yang didasrkan atas konteks dan pengalaman hidup masyarakat Afrika Selatan, yang (pernah) dibentuk oleh politik aparteid, ketidak adilan, penindasan . 

Mahmud Thaha mengembangkan sebuah ‘hermeneutika untuk asasi manusia’. Metodologi interpretasi utamanya didasarkan atas teori naskh (penghapusan). Namun, tidak seperti teori naskh tradisional yang mengatakan teks Madaniyah menghapus teks Makiyah menjadi, tapi sebaliknya teks Makiyahlah yang menghapus teks Madaniyah .

Trend lain adalah hermeneutika Al-Qur’an yang dikembangkan dalam kerangka linguistik dan kritik sastra. Tiga intelektual penting yang mengembangkan trend ini adalah Muhammad Arkoun, Nashr Hsmid Abu Zayd dan Muhammad Shahrour. Dai memformulasikan dasar baru untuk pembacaan Al-Qur’an, sebuah pembacaan yang berdasarkan atas disiplin-disiplin modern linguistik, semiologi, antropologi, sosiologi, dan sejarah. Nashr Abu Zayd berupaya untuk mengkaji teks Al-Qur’an dalam sinaran linguistik dan kritik sastra modern. Muhammad Shahrour mendasarkan hermeneutika Al-Qur’an atas prinsip linguistik klasik yang dikembangkan oleh Ibn Al-Jinni, Abd Al-Qahir Al-Jurjani, dan Abi Ali Al-Farisi bahwa “tidak ada sinonimitas dalam bahasa manusia . 

C. Cara Kerja Hermeneutik 

Bahasa dan hermeneutika adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bahasa penting bagi hermneutika karena lahan hermeneutika adalah bahasa. Demikian juga hermneutika penting bagi bahasa karena hermeneutika menjadi metode untuk memahami bahasa. Keterkaitan ini menjadikan hermeneutika sebagai metode untuk mengeluarkan makna kebahasaan sebuah teks . 

Pada dasarnya semua objek itu netral. Husserl menyatakan bahwa objek dan makna tidak pernah terjadi secara serentak atau bersama-sama. Meskipun makna mencul sesudah objek atau objek menurunkan maknanya atas dasar situasi objek, semuanya adalah sama saja . 

Untuk dapat membuat interpretasi, orang lebih dahulu harus: 
1. Mengerti atau memahami. “mengerti” bukan didasarkan atas penentuan waktu, melainkan bersifat ilmiah. Sebab, apabila seorang telah mengerti, sebenarnya ia telah melakukan interpretasi. 
2. Harus mengenal pesan atau kecondongan sebuah teks. terdapat pertentangan antara pikiran yang diarahkan pada objek dan pikiran penafsir itu sendiri. 
3. Meresapi isi teks, sehingga yang mulanya ‘yang lain’ menjadi ‘aku’ penafsir itu sendiri. Mengerti secara sungguh akan berkembang apabila didasarkan atas pengetahuan yang benar . 

D. Contoh hermeneutik 

Contoh aplikasi teori hermeneutik Nashr Abu Zayd mencoba menguak makna dan signifikansi (pesan utama) dari pernyataan dalam Q.S. al-Nisa’: 11 yang memuat sistem pembagian warisan bagi anak laki-laki dan anak perempuan. Allah mewasiatkan bagimu tentang (hak pewarisan) anak-anakmu. Yaitu bagian seorang laki-laki sama dengan bagian dua perempuan… 

Ibn Katsir, menafsirkan penggalan ayat tersebut, sebagai berikut: Allah memerintah kalian untuk menegakkan keadilan (‘adl) dalam hal (pembagian warisan untuk) mereka (anak-anak kalian). Sesungguhnya kaum Jahiliyah dahulu membagikan seluruh harta pusaka hanya kepada orang laki-laki. Tak seorang wanita pun memperoleh bagian. Kemudian Allah memerintah (umat Islam) pada asal pembagian warisan untuk membagi rata (taswiyah) harta pusaka di antara mereka, dan Allah membedakan pembagian pusaka di antara dua jenis tersebut (laki-laki dan perempuan): Allah memberi seorang anak lelaki bagian yang sama dengan bagian dua anak perempuan. Demikian itu karena lelaki membutuhkan (dana yang lebih banyak) untuk menanggung nafkah keluarga, beban berbisnis dan berdagang, dan menanggung beban kehidupan yang lain. Maka, pantaslah anak lelaki diberi dua kali lipat bagian lebih besar dari bagian seorang anak perempuan. 

Bagaiamana dengan penafsiran Abu Zaid dengan pembacaan berbasis makna dan signifikansi? Makna ayat tersebut adalah menununjukkan pembagian dua-berbanding-satu, dan makna inilah yang memang diaplikasikan pada masa Rasul. Pembagian ini dipandang sebagai aturan yang ‘adil’ sesuai dengan pemahaman manusia saat itu. Dalam kebudayaan Arab pra-Islam, perempuan tidak mempunyai hak untuk memiliki. Karena tidak produktif. Aturan stanndarnya terkait dengan masalah produktifitas ekonomi. Sebagaimana yang mereka katakana: “kami tidak memberikan warisan kepada seseorang yang tidak bias menunggang kuda, tidak kelelahan dan tidak melukai musuh. ” Informasi semacam ini dapat disimpulkan, dari asbab an-nuzul ayat tersebut. Pembagian dua-berbanding-satu dipandang adil, karena telah memberikan bagian tertetentu bagi kaum wanita. Pemberian bagian separoh lebih kecil untuk anak perempuan dipandang sebagai sesuatu yang dapat diterima dan sesuai dengan rasa ‘keadilan historis’, karena sebelum turunnya wahyu bagian wanita berada pada ‘titik nol’, sedangkan setelah turunnya wahyu bagian wanita (anak perempuan) berada pada ‘titik 50%’. 

Makna ini mempunyai sebuah signifikasi yang sangat penting dalam konteks sosio-historis dalam sebuah masyarakat Arab, dimana kelelakian merupakan ukuran dan prinsip nilai. Signifikansinya adalah bahwa Al-Qur’an bertujuan untuk menciptakan antara laki-laki dan perempuan secara bertahap. Perubahan yang mendadak tidaklah mungkin, dan bahkan bias menjadi sesuatu yang deskruktif. “bagi laki-laki bagian yang sebanding dengan bagian dua perempuan”, adalah bahwa teks menekankan pada bagian laki-laki dulu baru kemudian bagian perempuan. Ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an membatasi bagian laki-laki ketimbang bagian perempuan “sebanding dengan bagian dua perempuan”. Namun, bagian peempuan ini sebenarnya merupakan bagian minimum, bukan maksimum. Ini berarti laki-laki dapat memperoleh lebih rendah ketimbang bagian yang seharusnya dia terima, dan perempuan dapat menerima lebih banyak dari bagian yang seharusnya mereka terima berdasarkan kesepakatan . 

Konklusi yang harus kita ambil adalah perempuan haruslah mendapatkan bagian yang sebanding dengan bagian laki-laki. Kita haruslah tidak mengikuti makna literalnya, namun mengikuti semangat kalam Allah . 

Daftar Pustaka 
• Faiz, fahruddin, (2005), Hermeneutika Al-Qur’an: Tema-Tema Kontroversial. Yogyakarta: Elsaq Press • Ichwan, Moch. Nur, (2003), Meretas Kesarjanaan Kritis Al-Qur’an. Jakarta: TERAJU 
• Mubarak, Ahmad Zaki, (2007), Pendekatan Strukturalisme Linguistik. Yoguakarta: Elsaq Press
• Sibawaihi, (2007), Hermeneutika Al-Qur’an Fazlur Rahman. Yogyakarta: Jalasutra 
• Syamsuddin, Sahiron, (2003), Dkk, Hermenuetik Al-Qur’an Mazhab Yogya. Yogyakarta: Islamika
• Sumaryono, E, (1999) Hermeneutic Sebuah Metode Filsafat. Yogyakarta: Kanisius

Tidak ada komentar:

Posting Komentar